Penyanyi dan musisi terkenal Aceh, Rafly Kande mendukung keputusan kontingen Aceh Selatan mundur dari arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V dan Aceh Internasional Expo (AIE) 2009 yang berlangsung sejak 2-11 Agustus 2009.
Hal tersebut disampaikan Rafly Kande di Banda Aceh, Jumat [07/08] , usai menyaksikan pelepasan kontingen “Kota Naga” sekitar 600 peserta dan offecial yang dilakukan Bupati Aceh Husin Yusuf di Wisma Bintara Pineung Banda Aceh, Kamis (6/8) malam.
“Secara pribadi saya sangat setuju dengan keputusan Bupati yang mundur dari PKA. Panitia lokal dan peserta dari Aceh Selatan sudah memutuskan seperti itu dan ini suatu keputusan bersama,” katanya.
Menurut dia, aksi mundur dari event lima tahunan itu merupakan wujud kekecewaan peserta yang merasa diabaikan panitia pelaksana saat kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membuka dan meninjau arena PKA.
Pemerintah Aceh diminta bersikap arif bijaksana menyingkapi keputusan kontingen Aceh Selatan itu.
“Saya berharap Pemerintah dan panitia pelaksana mengedepankan kearifan menyingkapi ‘luka’ dan harga diri masyarakat Aceh Selatan akibat batalnya kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke anjungan mereka,” katanya.
Anjungan daerah sentra produk komoditi pala, Aceh Selatan itu sudah ditetapkan sebagai salah satu lokasi yang dikunjung Kepala Negara. Masyarakat sudah menunggu kedatangan Presiden SBY, namun yang terjadi justru sebaliknya, batal.
Pelantun lagu “Anek Yatim” itu menilai panitia pelaksana PKA V 2009 sepertinya mengabaikan persiapan yang dilakukan masyarakat kota Naga, sehingga pelaku seni budaya yang mewakili masyarakat Aceh Selatan kecewa.
“Budaya itu wilayah rasa bukan wilayah matematika. Saya dengar hingga saat ini belum ada satu orang pun panitia yang menyampaikan sepatah kata kepada kontingen Aceh Selatan. Jadi wajar kalau mereka membuat aksi demikian,” kata Rafly.
Pemerintah Aceh dan panitia pelaksana PKA seharusnya mengadakan komunikasi terkait pembatalan kunjungan Presiden SBY ke anjungan Aceh Selatan yang kemudian diputuskan “pulang kampung” itu.
“Aksi ini tidak cukup sampai di sini. Harus ada tindak lanjut, apalagi Aceh Selatan masih menyandang predikat juara umum. Saya berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara arif dan bijaksana,” demikian Rafly Kande.
Tolak Anugerah Seni PKA
Penyanyi dan seniman Aceh, Rafly Kande menyatakan menolak anugerah seni musik yang akan diberikan panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V 2009.
“Saya merasa tidak pantas mendapatkan anugerah seni musik itu. Masih banyak seniman, penyanyi dan musisi Aceh lainnya yang berhak mendapat penghargaan itu,” kata Rafly Kande di Banda Aceh, Jumat.
Pelantun lagu “Asoe Nanggroe” itu mengatakan, anugerah bagi para seniman, khususnya seni musik tersebut tidak pantas didapatkannya baik secara prosedural maupun sistem.
“Banyak seniman musik atau penyanyi Aceh lainnya yang lebih layak menerima penghargaan itu seperti almarhum Muhklis dan musisi lainnya,” katanya.
Rafly juga menyatakan bahwa penolakan penghargaan itu tidak ada kaitannya dengan mundurnya kontingen Aceh Selatan dari arena PKA V dan Aceh Internasional Expo 2009.
Penyanyi dan musisi kelahiran Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan itu menilai PKA yang dilaksanakan lima tahun belum sesuai dengan harapan mayoritas masyarakat daerah ini.
“Saya melihat PKA bagai peristiwa tanpa esensi dan tujuan yang jelas. Saya melihat sebuah kegiatan hara-hura. Kalau tidak percaya lihat saja orang yang datang ke arena hanya untuk melihat ikan nila di dalam sebuah kolam,” kata Rafly.
Dia mengharapkan pelaksanaan PKA selanjutnya lebih konsentrasi pada seni dan adat budaya dibandingkan aspek lain karena event itu sendiri adalah upaya mengedepankan kebiasaan masyarakat yang unik dan menarik di Aceh. ( ant )
Sumber: beritasore.com
edisi 07/08/2009
Hal tersebut disampaikan Rafly Kande di Banda Aceh, Jumat [07/08] , usai menyaksikan pelepasan kontingen “Kota Naga” sekitar 600 peserta dan offecial yang dilakukan Bupati Aceh Husin Yusuf di Wisma Bintara Pineung Banda Aceh, Kamis (6/8) malam.
“Secara pribadi saya sangat setuju dengan keputusan Bupati yang mundur dari PKA. Panitia lokal dan peserta dari Aceh Selatan sudah memutuskan seperti itu dan ini suatu keputusan bersama,” katanya.
Menurut dia, aksi mundur dari event lima tahunan itu merupakan wujud kekecewaan peserta yang merasa diabaikan panitia pelaksana saat kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membuka dan meninjau arena PKA.
Pemerintah Aceh diminta bersikap arif bijaksana menyingkapi keputusan kontingen Aceh Selatan itu.
“Saya berharap Pemerintah dan panitia pelaksana mengedepankan kearifan menyingkapi ‘luka’ dan harga diri masyarakat Aceh Selatan akibat batalnya kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke anjungan mereka,” katanya.
Anjungan daerah sentra produk komoditi pala, Aceh Selatan itu sudah ditetapkan sebagai salah satu lokasi yang dikunjung Kepala Negara. Masyarakat sudah menunggu kedatangan Presiden SBY, namun yang terjadi justru sebaliknya, batal.
Pelantun lagu “Anek Yatim” itu menilai panitia pelaksana PKA V 2009 sepertinya mengabaikan persiapan yang dilakukan masyarakat kota Naga, sehingga pelaku seni budaya yang mewakili masyarakat Aceh Selatan kecewa.
“Budaya itu wilayah rasa bukan wilayah matematika. Saya dengar hingga saat ini belum ada satu orang pun panitia yang menyampaikan sepatah kata kepada kontingen Aceh Selatan. Jadi wajar kalau mereka membuat aksi demikian,” kata Rafly.
Pemerintah Aceh dan panitia pelaksana PKA seharusnya mengadakan komunikasi terkait pembatalan kunjungan Presiden SBY ke anjungan Aceh Selatan yang kemudian diputuskan “pulang kampung” itu.
“Aksi ini tidak cukup sampai di sini. Harus ada tindak lanjut, apalagi Aceh Selatan masih menyandang predikat juara umum. Saya berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara arif dan bijaksana,” demikian Rafly Kande.
Tolak Anugerah Seni PKA
Penyanyi dan seniman Aceh, Rafly Kande menyatakan menolak anugerah seni musik yang akan diberikan panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V 2009.
“Saya merasa tidak pantas mendapatkan anugerah seni musik itu. Masih banyak seniman, penyanyi dan musisi Aceh lainnya yang berhak mendapat penghargaan itu,” kata Rafly Kande di Banda Aceh, Jumat.
Pelantun lagu “Asoe Nanggroe” itu mengatakan, anugerah bagi para seniman, khususnya seni musik tersebut tidak pantas didapatkannya baik secara prosedural maupun sistem.
“Banyak seniman musik atau penyanyi Aceh lainnya yang lebih layak menerima penghargaan itu seperti almarhum Muhklis dan musisi lainnya,” katanya.
Rafly juga menyatakan bahwa penolakan penghargaan itu tidak ada kaitannya dengan mundurnya kontingen Aceh Selatan dari arena PKA V dan Aceh Internasional Expo 2009.
Penyanyi dan musisi kelahiran Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan itu menilai PKA yang dilaksanakan lima tahun belum sesuai dengan harapan mayoritas masyarakat daerah ini.
“Saya melihat PKA bagai peristiwa tanpa esensi dan tujuan yang jelas. Saya melihat sebuah kegiatan hara-hura. Kalau tidak percaya lihat saja orang yang datang ke arena hanya untuk melihat ikan nila di dalam sebuah kolam,” kata Rafly.
Dia mengharapkan pelaksanaan PKA selanjutnya lebih konsentrasi pada seni dan adat budaya dibandingkan aspek lain karena event itu sendiri adalah upaya mengedepankan kebiasaan masyarakat yang unik dan menarik di Aceh. ( ant )
Sumber: beritasore.com
edisi 07/08/2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar